Tugu Jong Sumatranen Bond, Saksi Sejarah Gerakan Pemuda di Sumatera (Bag 1)

Tugu Jong Sumatranen Bond
Tugu Jong Sumatranen Bond (Ocky Anugrah / KLIKPOSITIF )

Tugu Jong Sumatranen Bond (JSB) merupakan saksi sejarah gerakan para pemuda di Sumatera. Tugu yang didirikan pada pertengahan 1919 itu, berada Jalan Gereja, Kota Padang, tepatnya, di sebalah selatan Hotel Grand Inna Muara. 

Menariknya, tugu tersebut dibuat oleh Bangsa Indonesia menggunakan bahan semen dari NV.Nederlansche Indische Portland (NIPCM) atau sekarang dikenal dengan PT Semen Padang .

baca juga: Semen Padang Sosialisasikan Protokol The New Normal pada Pemangku Kepentingan

Kini usia tugu tersebut hampir satu abat lamanya. Meski kondisi tugu tersebut masih utuh, namun cerita historis tugu ini tenggelam dalam kemegahan sejumlah bangunan baru di "Kota Bengkuang", seperti Tugu Gempa Padang yang berada di dekat Tugu Jong Sumatranen Bond .

Dinukil dari laman wikipedia.org, Tugu Jong Sumatranen Bond merupkan simbol dari perkumpulan anak muda Sumatera yang bergerak untuk melahirkan pemimpin bangsa serta mempelajari dan mengembangkan budaya Sumatera.

baca juga: SSB Semen Padang Serahkan Bansos Dampak Covid 19 dari APSSI

Perkumpulan ini didirikan pada tanggal 9 Desember 1917 di Jakarta. Jong Sumatranen Bond memiliki enam cabang, empat di Jawa dan dua di Sumatra, yakni di Padang dan Bukittinggi. 

Kelahiran Jong Sumatranen Bond pada mulanya banyak diragukan orang. Salah satu diantaranya ialah redaktur surat kabar Tjaja Sumatra, Said Ali, yang mengatakan bahwa Sumatera belum matang bagi sebuah politik dan umum.

baca juga: Terkait COVID-19, Semen Padang Tiadakan Salat Idul Fitri di Plaza Kantor Pusatnya

Tanpa menghiraukan suara-suara miring itu, anak-anak muda di Sumatera tetap mendirikan perkumpulan sendiri. Kaum tua di Minangkabau menentang pergerakan tersebut dengan menganggap gerakan modern Jong Sumatranen Bond sebagai ancaman bagi adat Minang.

Aktivis Jong Sumatranen Bond, Bahder Djohan menyorot perbedaan persepsi antara dua generasi ini pada edisi perdana Jong Sumatra. Namun demikian, pergerakan Jong Sumatranen Bond bitu tetap kokoh dan melahirkan pemimpin bangsa.

baca juga: Anjangsana ke Panti Sosial Anak Asuh Lubuk Kilangan, Semen Padang Serahkan Tali Asih

Diantaranya, Mohammad Hatta, Wakil Presiden RI pertama dan Prof. Mr. Mohammad Yamin, salah satu perintis puisi modern Indonesia dan pelopor Sumpah Pemuda sekaligus "pencipta imaji keindonesiaan" yang mempengaruhi sejarah persatuan Indonesia.

Selain Mohammad Hatta dan Mohammad Yamin, tokoh utama Jong Sumatranen Bond lainnya yakni Dr. Adnan Kapau Gani atau biasa disingkat A.K. Gani. Beliau lahir di Palembayan, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda, 16 September 1905 – meninggal di Palembang, Sumatera Selatan pada 23 Desember 1968 pada umur 63 tahun.

Beliau adalah seorang dokter dan politisi Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri pada Kabinet Amir Sjarifuddin I dan Kabinet Amir Sjarifuddin. 

Kemudian Bahder Djohan yang lahir di Lubuk Begalung, Padang pada 30 Juli 1902 – meninggal di Jakarta, 8 Maret 1981 pada umur 78 tahun. Bahder Djohan adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada Kabinet Natsir dan Kabinet Wilopo. 

Jong Sumatranen Bond lainnya, yakni Sutan Takdir Alisjahbana (STA), (lahir di Natal, Sumatera Utara, 11 Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 17 Juli 1994 pada umur 86 tahun) adalah seorang budayawan, sastrawan dan ahli tata bahasa Indonesia. Ia juga salah seorang pendiri Universitas Nasional, Jakarta. (bersambung) 

Penulis: Riki S