Dibantu TRC Semen Padang, Rahmadina Zaid Berhasil Wujudkan Mimpi Jadi PNS

Rahmadina Zaid (tengah) bersama dengan kedua orangtuannya
Rahmadina Zaid (tengah) bersama dengan kedua orangtuannya (Riki S/Klikpositif)

Di balik musibah longsor yang merenggut satu korban jiwa dan tiga unit mobil tertimbun material longsor di Jalan Padang-Solok, tepatnya di kawasan Sitinjau Lauik pada 12 Desember 2018 lalu, ternyata ada kisah heroik dari relawan Tim Reaksi Cepat ( TRC ) Semen Padang. Berkat bantuan TRC , seorang warga asal Sijunjung akhirnya berhasil mewujudkan impiannya menjadi PNS. Berikut ceritanya.

Laporan Riki Suardi-Sijunjung

baca juga: Longsor, Jalan Matur-Palembayan Terputus Total

Musibah dan Rejeki Datangnya Tidak Berpintu, pribahasa Cina Kuno dari kitab Thai Sang Gan Ying Pian inilah yang pas disematkan kepada Rahmadina Zaid, gadis beruntung asal Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat, yang lulus menjadi PNS di lingkungan Pengadilan Agama Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, tahun 2019.

Saat bencana longsor melanda kawasan Sitinjau Lauik, wanita berhijab berusia 24 tahun yang akrab disapa Dina itu, mengaku nyaris tak bisa mengikuti ujian CPNS, karena mobil travel yang ditumpanginya, terperangkap macet akibat Jalan Padang-Solok putus total dan tidak bisa dilewati kendaraan karena badan jalan tertimbun material longsor sepanjang 30 meter. 

baca juga: Jalur Alternatif Bukittinggi-Padang Via Malalak, Siang Ini Sudah Bisa Dilewati

Beruntung di lokasi tanah longsor itu ada relawan TRC Semen Padang yang datang menolong, sehingga keinginan Dina untuk mengikuti Seleksi Kompetensi Bersama (SKB) penerimaan CPNS yang digelar di STKIP Convention Center, Kota Padang, dapat terwujud. 

"Kalau tidak ada relawan TRC Semen Padang yang menolong saya ketika itu, mungkin saya tidak bisa jadi PNS. Untuk itu, saya berterimakasih kepada keluarga besar TRC Semen Padang, semoga perbuatan baik ini menjadi ladang amal," kata Dina saat ditemui di rumahnya, Jorong Koto Tuo, Nagari ubuk Tarok, Kecamatan Lubuk Tarok, Kabupaten Sijunjung, Minggu, 5 Mei 2019. 

baca juga: Longsor di Dinding Jalan, Pengendara yang Lewat Jalur Ini Harus Tingkatkan Kewaspadaan

Alumni Fakultas Syariah, jurusan Hukum Keluarga, UIN Imam Bonjol angkatan 2013 yang berhasil lulus dengan prestasi Cumlaude (IPK 3,73) itu, menceritakan kejadian yang dialaminya hingga dia pun ditolong oleh relawan TRC Semen Padang di lokasi longsor Sitinjau Lauik tersebut.

Awalnya, kata Dina, pada Kamis, 13 Desember 2018 sekitar pukul 09.00 WIB, Ia berangkat dari Sijunjung menuju Padang dengan menumpangi PO Indra. Setiba di Solok sekitar pukul 11.00 WIB, antrian panjang kendaraan menuju Padang akibat longsor di Sitinjau Lauik, membuat PO Indara balik arah menuju Sijunjung.

baca juga: Nasrul Abit-Indra Catri Tinjau Lokasi Longsor Malalak

Karena Ia harus ke Padang untuk mengikuti ujian SKD penerimaan CPNS, anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Idawati JS dan Zaimul Yana itu dengan penuh keyakinan, akhirnya memutuskan untuk turun dari PO Indra, dan menyambung perjalanan ke Padang dengan menumpangi mobil travel jurusan Solok-Padang, meskipun arus kemacetan ketika itu sudah mulai panjang.

"Kondisi macet sudah padat merayap dan cukup panjang. Travel yang saya tumpangi terus berangsur-ansgur menuju Padang. Setiba di perbatasan Padang-Solok, atau sekitar 1 kilometer dari lokasi longsor , travel yang saya tumpangi sudah tak bisa lagi bergerak. Balik ke Solok pun juga tidak bisa," ujarnya. 

Jarum jam terus bergerak dan siang pun berganti malam. Dina bersama travel yang ditumpanginya masih terperangkap macet. Suasana gelap ditambah buruknya sinyal seluler, membuat Dina panik. Pukul 23.00 WIB, arus lalu lintas Padang-Solok belum juga bisa dilewati kendaraan, dan Dina pun semakin panik dan khawatir tidak bisa mengikuti ujian CPNS. 

Malam semakin larut dan hujan pun mulai turun. Di atas mobil travel, Dina kemudian berdoa kepada Allah SWT agar diberikan kemudahan, mengingat waktu ujian CPNS tinggal hitungan jam, karena besok paginya pukul 08.00 WIB, dirinya harus sudah berada di STKIP Convention Center untuk mengikuti ujian SKB penerimaan CPNS.

Kamis dinihari sekitar Pukul 00.30 WIB, Dina kemudian mendengar sayup-sayup suara orang yang menyebut ada "calon jamaah Umrah yang hendak berangkat ke Tanah Suci terperangkap macet". Mendengar suara itu, Dina turun dari travel yang ditumpanginya, dan ia pun melihat ada rombongan calon jamaah Umrah yang juga terjebak macet di Jalan Padang-Solok. 

Rombongan tersebut, kata Dina, memilih untuk jalan kaki menuju Padang. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Dina pun juga ikut jalan kaki bersama rombongan calon jamaah Umrah tersebut, meskipun di sepanjang perjalanan, ia pun kedinginan karena hujan yang terus mengguyur kawasan Sitinjau Lauik.

Setiba di lokasi longsor , jarum jam menunjukkan pukul 02.00 WIB dinihari, dan Dina pun bertambah panik, karena ada informasi yang beredar di lokasi longsor , bahwa ada pergerakan tanah, sehingga tidak perbolehkan ada warga yang lewat. "Saya bertambah panik dan menangis, karena saya takut tidak bisa ujian," tuturnya.

Dina pun menyebut bahwa saat dirinya menangis datang salah seorang relawan TRC Semen Padang yang belakangan diketahuinya bernama Syafrizal. Kepada relawan kebencanaan dari perusahaan semen plat merah di Kota Padang itu, Dina langsung minta tolong untuk dikeluarkan dari lokasi longsor tersebut, karena harus mengikuti ujian CPNS. 

"Pak Syafrizal itu kemudian mencarikan bantuan untuk saya. Tak sampai satu menit lamanya menunggu, datanglah anggota TRC Semen Padang lainya bernama Febrian Ramadhan. Relawan yang disapa dengan panggilan Rian itu langsung membantu saya dan para calon jamaah umrah untuk menyeberangi tumpukan material longsor berupa tanah dan kayu yang menimbun badan jalan," bebernya. 

Tak hanya itu, Rian pun, sebut Dina, juga membantu dirinya untuk bisa keluar dari kemacetan panjang dari arah Padang menuju Solok. "Macetnya ini kan sudah belawanan, satu dari arah Solok dan satulagi dari arah Padang. Macet dari Padang dimulai dari Simpang SPN Padang Besi hingga ke Sitinjau Lauik," ujar alumni MAN 1 Sijunjung itu.

Menggunakan sepeda motor yang dikendari Rian, wanita kelahiran Lubuk Tarok, 25 Februari 1995 itu akhirnya bisa keluar dari kemacetan panjang tersebut dengan selamat, dan usahanya untuk bisa mengikuti ujian SKB penerimaan CPNS tahun 2018, akhirnya berbuah manis dengan raihan nilai di atas rata-rata.

"Saya tidak hanya dibantu keluar dari kemacetan, tapi juga diantar ke tempat kos adik saya di kawasan Aia Pacah. Awalnya pakai motor, tapi karena hujan masih lebat, Rian yang nolong saya itu kemudian mengganti motor dengan mobil. Saya pun di antar pakai mobil ke tempat kos adik saya," bebernya. 

"Sampai di tempat kos adik saya, jarum jam menunujukkan pukul 05.30 WIB. Saya pun langsung bergegas untuk persiapan ujian SKB dan alhamdulillah saya lulus jadi PNS di Pengadilan Agama Batusangkar. Jadi sekali lagi, saya berterimakasih kepada keluarga besar TRC Semen Padang. Berkat bantuannya, saya bisa lulus jadi PNS dan sudah mulai bekerja," imbuhnya.

Informasi kelulusan Rahmadina Zaid sebagai PNS, baru diketahui oleh TRC Semen Padang pada 28 April kemarin sekitar pukul 20.00 WIB. Ketika itu, rombongan relawan TRC hendak menuju Bengkulu untuk menjalankan misi kemanusian Semen Padang Peduli terhadap bencana banjir besar yang melanda sebagian Provinsi Bengkulu. Rombongan TRC berangkat dari Padang ke Bengkulu melalui Jalan Lintas Sumatera via Lubuk Linggau. 

Rian menyebut setiba di Sijunjung, tepatnya di kawasan Tanah Badantuang, rombongan TRC Semen Padang berhenti untuk istirahat makan di sebuah rumah makan. Kemudian datang seorang perempuan berusia sekitar 50-an. Wanita yang belakangan diketahui ibu kandung dari Rahmadina Zaid itu, lalu menanyakan apakah rombongan ini memang dari TRC Semen Padang. Salah seorang dari rombongan menjawab iya. 

Wanita yang disapa Umi itu kembali bertanya dengan mengatakan apakah ada yang bernama Rian di rombongan ini. "Begitu Umi nanya mana yang namanya Rian, saya langsung angkat tangan dan menjawab, saya yang namanya Rian. Jadi, Pertemuan saya dengan Umi ini berlangsung secara tidak sengaja," kata Rian. 

"Begitu Rian ini acungkan tangan, saya pun bilang kalau saya ini Umi nya Dina. Saya mengucapkan terimakasih, karena berkat bantuan Rian, anak saya Dina lulus jadi PNS dan sekarang bertugas di Pengadilan Agama Batusangkar. Sebenarnya sudah sejak akhir Januari kemarin saya ingin ke Padang untuk meyampaikan terimakasih, tapi saya gak tahu carinya di Padang ke mana," kata Umi menimpali.

Rian menyebut bahwa awalnya, dia sempat kebingungan, karena Ia pun tidak tahu Dina yang mana yang dia tolong, dan kapan serta di mana kejadiannya. "Namun setelah Umi ini menyebut bahwa Dina yang terperangkap macet akibat longsor di Sitinjau Lauik dan hendak mengikuti tes CPNS, barulah saya ingat," ujarnya.

Lebih lanjut Umi menuturkan bahwa malam di saat Dina terperangkap macet akibat longsor di Jalan Lintas Padang-Solok itu, dirinya sempat panik dan gelisah, apalagi nomor handphonenya Dina juga sulit dihubungi sejak sore harinya. Bahkan ayah Dina, juga sempat menghubungi adiknya Dina yang ada di Padang untuk menanyakan apakah Dina sudah sampai, ternyata adiknya mengatakan, tidak ada kabar dari Dina.

"Habis salat Isya, saya tertidur dan mimpi buruk. Dalam mmimpi, saya dengar ada orang yang memanggil inisial R yang tidak bisa diselamatkan. Saya kaget, dan tiba-tiba saya terbagun dari tidur. Saya menangis, dan ditenangkan oleh ayahnya Dina. Kemudian, ayahnya Dina kembali menghubungi Dina, dan alhamdulillah tersambung, tapi suara Dina terputus-putus. Dina mengatakan kalau dirinya terjebak macet karena longsor di Sitinjau Lauik," katanya. 

Setelah tersambung, katanya melanjutkan, tiba-tiba komunikasi antara Dina dan ayahnya terputus, dan Dina pun kembali dihubungi oleh ayahnya ke nomor selulernya. Namun, nomor tersebut tak dapat dihubungi, karena diluar jangkauan (sinyal). Setelah itu, tidak ada lagi kouminkasi dengan Dina.

"Paginya sekitar pukul 05.30 WIB, adik Dina yang di Padang kemudian menghubungi saya, dan mengatakan kalau Dina sudah sampai di tempat kosannya. Dina diantar oleh relawan dari Semen Padang. Mendengar anak saya selamat, baru saya lega. Kenudian, mebjekang ujian, Dina menghubungi saya kalau yang menolongnya itu namanya Rian. Makanya ketika lihat TRC kemarin, saya langsung nanya mana yang namanya Rian," ungkap Umi.

Terpisah, Kepala Unit Humas dan Kesekretariatan PT Semen Padang, Nur Anita Rahmawati mengatakan bahwa TRC Semen Padang merupakan sebuah organisasi kebencanaan yang dimiliki PT Semen Padang. Oraganisasi ini dibentuk pascagempa Padang 2009.

Dulu organisasi ini namanya Semen Padang Peduli, dan pada 2013, namanya berganti menjadi Tim Reaksi Cepat Semen Padang. Setiap ada bencana di Sumatera Barat, organisasi ini menjadi terdepan bagi perusahaan dalam merespon bencana yang terjadi. 

"Tidak hanya bencana di Sumatera Barat, tapi kiprah TRC ini juga sampai ke luar luar Sumatera Barat, seperti beberapa waktu lalu ke lokasi banjir di Bengkulu Tengah, serta ke lokasi gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah, termasuk gempabumi yang melanda kawasan Pidei Jaya, Aceh," katanya.(*)

Penulis: Riki S